JAKARTA — Saham pendatang baru di pasar modal, PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), diperkirakan memiliki potensi penguatan signifikan dengan target harga Rp5.800 per saham. Valuasi ini mengindikasikan kenaikan sebesar 101% dari harga penawaran umum perdana (IPO) di level Rp2.880.
Analis Trimegah Sekuritas, Alpinus Dewangga, dalam riset terbarunya yang dipublikasikan pada Selasa (23/9/2025), mengungkapkan bahwa pengembangan Proyek emas Pani di Gorontalo menjadi katalis utama pendorong kinerja perseroan. Proyek ambisius ini memiliki sumber daya emas mencapai 292,4 juta ton, setara dengan 7 juta ons, dan cadangan terbukti sebesar 77,5 juta ton atau 1,9 juta ons emas hingga akhir tahun 2024.
“Cadangan dan sumber daya tersebut dihitung dengan asumsi harga emas US$1.650 per ons, sementara harga emas saat ini telah melampaui US$3.600 per ons. Kondisi ini membuka peluang besar untuk peningkatan sumber daya yang diestimasi serta percepatan konversi sumber daya menjadi cadangan,” jelas Dewangga.
Pemanis Saham IPO Merdeka Gold (EMAS) Diburu Investor Meski Kinerja Rugi
Proyek Pani mencakup area konsesi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) milik PT Puncak Emas Tani Sejahtera (PETS) dan Kontrak Karya milik PT Gorontalo Sejahtera Mining (GSM), dengan kepemilikan efektif EMAS sebesar 99,99% di kedua entitas tersebut. Dewangga menjelaskan bahwa EMAS akan mengadopsi kombinasi dua metode pengolahan bijih emas, yaitu heap leach (HL) dan carbon in leach (CIL). Pendekatan ganda ini akan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, memungkinkan pengolahan bijih sulfida berkadar tinggi dan bijih oksida berkadar rendah secara lebih efisien.
Produksi emas dari proyek ini diperkirakan akan dimulai pada kuartal I/2026, seiring dengan selesainya pembangunan pabrik HL. Pabrik ini diproyeksikan menghasilkan 79.000 ons emas pada tahun 2026 dan akan mencapai puncaknya sekitar 500.000 ons pada tahun 2033. “Pertumbuhan produksi emas pada periode 2026–2028 juga akan didorong oleh kadar emas yang lebih tinggi. Fase selanjutnya adalah pengoperasian pabrik CIL Fase 1 dengan kapasitas mencapai 7,5 juta ton per tahun pada 2029, diikuti percepatan produksi pada 2032 dengan penambahan kapasitas sebesar 4,5 juta ton dari pabrik CIL Fase 2,” papar Dewangga.
Dari sisi kinerja keuangan, Trimegah Sekuritas memproyeksikan pendapatan EMAS akan melonjak menjadi US$293 juta pada tahun 2026 dan terus meningkat hingga US$381 juta pada tahun berikutnya. Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan signifikan output emas perseroan. Sementara itu, EBITDA diperkirakan naik menjadi US$180 juta pada 2026 dan mencapai US$242 juta pada 2027. Adapun laba bersih EMAS ditaksir akan menyentuh US$97 juta pada tahun depan, dan kemudian bertumbuh menjadi US$132 juta pada 2027.
“Kami memulai cakupan atas saham EMAS dengan target harga Rp5.800 per saham. Valuasi ini dilakukan menggunakan metode DCF [discounted cash flow] dengan asumsi umur tambang selama 16 tahun, terhitung dari 2026 hingga 2041, dan menerapkan WACC nominal sebesar 9,6%,” ungkap Dewangga. Selain itu, target harga Rp5.800 per saham mengimplikasikan rasio EV/resources US$838 per ons, yang 79% lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata perusahaan emas sejenis di Indonesia. Perbandingan ini didukung oleh potensi output emas EMAS yang berpeluang menghasilkan arus kas yang lebih optimal setelah kapasitas produksi puncak tercapai.
Berdasarkan laporan kegiatan kuartalan EMAS, penyelesaian Proyek Pani telah mencapai progres 67% hingga akhir Juni 2025. Manajemen EMAS menyampaikan bahwa seluruh rekayasa detail (detailed engineering) dan proses pengadaan (procurement) telah rampung. “Kontraktor di lokasi saat ini mulai melakukan pemasangan infrastruktur pengolahan dan kelistrikan,” ungkap manajemen MDKA dalam laporannya.
BEI: Investor dari 24 Negara Berpartisipasi dalam IPO Merdeka Gold (EMAS)
Selain itu, fasilitas pelabuhan untuk mendukung logistik proyek juga sudah beroperasi penuh. Pembangunan tangki penyimpanan bahan bakar juga telah rampung guna memastikan kesiapan pasokan energi yang memadai untuk tahap operasional. MDKA memastikan proses komisioning proyek masih sesuai jadwal dan ditargetkan akan berlangsung pada akhir 2025. Setelah itu, perseroan akan memulai fase ramp-up produksi dengan target hasil emas perdana pada kuartal pertama 2026.
Adapun, terkait kinerja historis, EMAS membukukan pendapatan sebesar US$1,74 juta pada tahun 2024, namun mencatat rugi bersih sebesar US$12,7 juta. Kemudian, pada kuartal I/2025, perseroan belum mencatatkan pendapatan dan rugi bersihnya meningkat menjadi US$9,21 juta.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) diperkirakan memiliki potensi penguatan signifikan dengan target harga Rp5.800 per saham, mengindikasikan kenaikan 101% dari harga IPO. Pendorong utama proyeksi ini adalah pengembangan proyek emas Pani di Gorontalo yang memiliki sumber daya 7 juta ons dan cadangan terbukti 1,9 juta ons emas hingga akhir 2024. Valuasi ini dihitung dengan asumsi harga emas US$1.650 per ons, yang jauh di bawah harga pasar saat ini, membuka peluang peningkatan estimasi sumber daya. EMAS menguasai 99,99% kepemilikan efektif atas area konsesi proyek Pani dan akan menggunakan kombinasi metode heap leach (HL) dan carbon in leach (CIL) untuk pengolahan bijih.
Produksi emas dari proyek Pani diperkirakan akan dimulai pada kuartal I/2026 dengan operasional pabrik HL. Produksi diproyeksikan mencapai 79.000 ons emas pada tahun 2026 dan puncaknya sekitar 500.000 ons pada tahun 2033, didukung oleh pengoperasian pabrik CIL secara bertahap. Trimegah Sekuritas memproyeksikan pendapatan EMAS melonjak menjadi US$293 juta pada 2026 dan laba bersih mencapai US$97 juta pada tahun yang sama. Hingga Juni 2025, penyelesaian proyek Pani telah mencapai progres 67%, dengan komisioning ditargetkan akhir 2025 dan produksi perdana pada kuartal pertama 2026.
