
Rancak Media – , JAKARTA — Transaksi perdagangan berjangka komoditi (PBK) mulai dilirik sebagai alternatif investasi yang lebih terjangkau dibandingkan saham.
Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) Bappebti Kementerian Perdagangan (Kemendag) Ima Siti Fatimah mengatakan, investor dapat memulai transaksi dengan modal relatif kecil melalui PBK.
Dia menuturkan, potensi investasi di sektor PBK masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, terutama mahasiswa. Menurutnya, dengan sistem margin, PBK memungkinkan investor melakukan transaksi tanpa harus mengeluarkan dana sebesar harga penuh suatu komoditas.
: Mendag: Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi Tembus 8,18 Juta Lot per Juli 2025
“Padahal sebenarnya potensi untuk kita melakukan investasi melalui perdagangan berjangka komoditi [PBK] itu cukup besar,” kata Ima dalam acara Pembukaan Bulan Literasi Perdagangan Berjangka Komoditi 2025 di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Depok, Jawa Barat, Kamis (18/9/2025).
Dia menjelaskan, saat ini transaksi PBK dapat dilakukan di tiga bursa berjangka yang telah mengantongi izin dari Bappebti, yakni Bursa Berjangka Jakarta, Bursa Derivatif Komoditi Indonesia, dan Indonesia Karisma Berjangka.
: : Industri Perdagangan Berjangka Tak Bisa Hanya Andalkan AI
Kendati begitu, Ima tak menampik bahwa perdagangan berjangka komoditi merupakan high risk-high return. Apalagi, dia mengungkap, mayoritas pengaduan yang masuk ke Bappebti banyak terkait iming-iming adanya fixed income dari perdagangan berjangka komoditi. Untuk itu, Ima mengimbau agar masyarakat memahami risiko sebelum melakukan perdagangan berjangka komoditi.
“Walaupun adanya margin itu tetap agak berisiko kalau yang memang belum memahami bagaimana mekanismenya karena selama ini yang beredar itu yang masuk pengaduan itu mereka dijanjikan adanya fixed income,” bebernya.
: : Diawasi Tiga Regulator, Industri Perdagangan Berjangka Diminta Perkuat Keamanan Data
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Direktorat Pengawasan Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Darwin menilai PBK dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk memulai berinvestasi, mengingat modal yang dikeluarkan tidak sebesar dengan saham blue chip.
“Tetapi dengan PBK ini hanya dengan pecahannya saja itu kita beli jadi sebagai alternatif investasi,” ujar Darwin.
Namun, Darwin menekankan pentingnya literasi investasi sejak dini. Di samping itu, OJK juga terus mendorong transparansi informasi dari pelaku pasar agar investor memahami risiko dan potensi keuntungan dari PBK.
Sementara itu, Direktur Group Pengembangan Product dan Pricing Pasar Uang dan Pasar Valas (PUVA) Bank Indonesia (BI) Arief Rachman mengungkap, mayoritas investor di pasar PUVA bukan merupakan merupakan investor profesional.
Dia memerincikan, sebagian besar investor PUVA adalah 20% pegawai swasta, 6% investor dari kalangan mahasiswa, dan 3% dari ibu rumah tangga.
Sejalan dengan hal itu, Arief menuturkan, salah satu kunci untuk mendukung perlindungan konsumen adalah dengan memperkuat literasi dan risiko.
