
Emiten raksasa telekomunikasi PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) disebut tengah dalam proses rencana divestasi 70% saham anak usahanya di bidang pusat data PT Telkom Data Ekosistem atau NeutraDC. Aksi korporasi tersebut mengindikasikan valuasi di kisaran US$1 miliar hingga US$1,5 miliar atau sekitar Rp 18 triliun hingga Rp 27 triliun.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erinda Krisnawan mengatakan manajemen TLKM berencana menggandeng operator pusat data global sebagai mitra strategis untuk memperkuat kemampuan operasional NeutraDC. Terutama dalam melayani perusahaan hyperscaler.
Dalam riset tersebut analis BRIDS mengatakan TLKM telah menyaring kandidat mitra strategis hingga tahap akhir dan aksi divestasi ditargetkan rampung tahun ini. Dengan adanya rencana ekspansi besar-besaran NeutraDC, kesepakatan itu berpotensi melibatkan komitmen belanja modal untuk mendanai pembangunan, tergantung pada struktur final transaksi.
Kendati demikian, Kafi dan Erinda mengatakan masuknya operator pusat data global dengan nilai transaksi US$1 miliar–US$1,5 miliar berpotensi menciptakan nilai tambah bagi TLKM. BRIDS memperkirakan transaksi tersebut dapat memberikan potensi kenaikan sekitar 4% terhadap target harga saham TLKM mencapai Rp 3.900 per saham.
Baca juga:
- Peluang Merger Bisnis Bank ARTO dan Pembiayaan BFIN Terbentur Regulasi?
- IHSG Sesi I Naik 0,86% hingga Net Sell Capai Rp 302 M, BMRI–ASII Ramai Dijual
- Sinyal IPO Kopi Kenangan Menguat, Bakal Bersaing Kebut Kinerja Emiten FORE?
“Dengan asumsi NeutraDC dinilai pada rasio EV/EBITDA gabungan TLKM sebesar 5,4x,” ucap Kafi dan Erinda dalam analisisnya, dikutip Senin (20/7).
BRI Danareksa merekomendasikan beli saham TLKM seiring rencana divestasi bisnis pusat data NeutraDC menjadi katalis potensial bagi saham perusahaan. NeutraDC saat ini menyumbang sekitar 1,1% terhadap pendapatan TLKM berdasarkan kinerja kuartal I 2026 dan tahun buku 2025. Kontribusi tersebut ditargetkan meningkat menjadi 3%–5% dalam jangka menengah.
Key Financials
2024A
2025A
2026F
2027F
2028F
Revenue (Rpbn)
149,967
146,742
150,295
155,916
162,029
EBITDA (Rpbn)
75,029
72,240
73,254
77,987
81,540
EBITDA Growth (%)
-3,3
-3,7
1,4
6,5
4,6
Net Profit (Rpbn)
22,403
17,814
19,302
21,935
22,740
EPS (Rp)
226,2
179,8
194,8
221,4
229,6
EPS Growth (%)
-8,8
-20,5
8,4
13,6
3,7
BVPS (Rp)
1350,7
1319,2
1289,7
1,329
1350,1
DPS (Rp)
178,5
212,5
212,5
183,1
208
PER (x)
11
13,8
12,7
11,2
10,8
Dividend yield (%)
7,2
8,6
8,6
7,4
8,4
EV/EBITDA
3,7
3,9
3,8
3,6
3,4
Sumber: TLKM dna BRI Danareksa Sekuritas
Proyeksi Kinerja Telkom
Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai NeutraDC masih memiliki ruang ekspansi kapasitas besar, terutama melalui pengembangan pusat data JKT-1 di Cikarang.
Dalam kunjungan ke fasilitas tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menyebut Kampus 1 JKT-1 dirancang memiliki kapasitas beban teknologi informasi sebesar 21,5 MW. Saat ini, kapasitas yang telah beroperasi mencapai 3,5 MW, sedangkan 18 MW lainnya telah dibangun dan sepenuhnya dikontrak oleh penyewa, namun masih dalam tahap penyesuaian sesuai kebutuhan masing-masing tenant.
NeutraDC juga telah menyiapkan lahan di sebelah Kampus 1 untuk pengembangan Kampus 2 yang akan menggunakan teknologi rak pendingin cair. Pengembangan tersebut akan meningkatkan total kapasitas beban IT yang direncanakan di lokasi Cikarang menjadi 120 MW. Perusahaan memperkirakan kebutuhan belanja modal untuk pengembangan pusat data mencapai sekitar US$ 10 juta–US$ 12 juta per MW.
Selain Cikarang, NeutraDC memiliki fasilitas pusat data hyperscale berkapasitas 18 MW di Batam yang ditargetkan siap beroperasi atau Ready for Service (RFS) pada 2026. Fasilitas tersebut telah sepenuhnya terisi dengan Gorilla Technology sebagai penyewa utama. Sementara itu, fasilitas NeutraDC di Singapura dengan kapasitas 17,4 MW telah beroperasi penuh.
TLKM menargetkan total kapasitas beban IT NeutraDC mencapai 300 MW pada 2030. Selain menyediakan layanan kolokasi konvensional, NeutraDC juga mengembangkan bisnisnya sebagai penyedia infrastruktur digital terintegrasi melalui layanan konektivitas, GPU-as-a-Service (GPUaaS), dan layanan terkelola.
“Di luar bisnis pusat data, kami meyakini bisnis konektivitas TLKM, terutama Telin dan Infranexia, juga akan mendapat manfaat dari meningkatnya permintaan pusat data, terutama di Batam, terlepas dari operator pusat datanya, didukung oleh infrastruktur konektivitas TLKM yang luas,” tulis analis BRI Danareksa.
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memiliki 100% saham PT Telkom Data Ekosistem atau NeutraDC. NeutraDC kemudian mengelola tiga lini bisnis utama, yakni pusat data di Indonesia, Batam, dan Singapura.
Di Indonesia, NeutraDC menguasai 100% bisnis pusat data fasilitas di Cikarang, pusat data ritel, dan edge data centers. Sementara itu, NeutraDC menggandeng mitra strategis untuk mengembangkan pusat data di Batam dengan menguasai 60% saham. Mitra tersebut yakni Singtel-Nxera dengan kepemilikan 35% dan Medco Power sebesar 5%. Adapun di Singapura, NeutraDC menjalankan bisnis pusat data secara penuh dengan kepemilikan 100%.
