
Rancak Media JAKARTA – Lima emiten big caps masuk dalam jajaran saham pemberat atau top laggards IHSG sepanjang tahun berjalan 2025, seperti BBCA hingga BYAN.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, lima saham yang menghuni deretan teratas top laggard, atau saham yang mengalami koreksi harga dan menjadi pemberat terbesar laju indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang 2025.
Kelima saham tersebut adalah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bayan Resources Tbk. (BYAN).
Pada penutupan pasar Selasa (9/12/2025), harga BBCA ditutup turun 2,41% ke Rp8.100, mencerminkan koreksi 16,28% secara year to date (YtD). Sementara itu, BBRI menguat 0,27% ke Rp3.680, tetapi secara YtD harganya susut 9,80%.
Berikutnya ada BMRI yang turun 1,21% ke Rp4.890, atau 14,21% secara YtD. AMMN juga terkoreksi 1,59% ke Rp6.200 atau susut 26,84% YtD. Senasib, saham BYAN yang ditutup turun 1,27% ke Rp17.500, mencerminkan penyusutan 13,58% YtD.
Analis Pasar Modal Lucky Bayu Purnomo menjelaskan bahwa secara valuasi, saham tiga bank besar penghuni top laggards tahun ini, BBCA, BBRI dan BMRI memiliki peluang untuk menguji level wajarnya.
: Rekomendasi Strategi Belanja Saham Big Caps Harga Diskon jelang 2026
Menurutnya, harga BBCA saat ini berada pada valuasi yang cukup tinggi, namun belum terlalu mahal. Sebaliknya, BBRI dan terutama BMRI justru mulai masuk zona undervalued setelah tekanan laba sepanjang 2025.
Sementara itu, harga saham BYAN saat ini masih berada pada valuasi yang tidak ekonomis untuk sektor siklikal, sedangkan bagi AMMN memerlukan perbaikan kinerja smelter dan kenaikan harga tembaga agar valuasinya kembali masuk berada dalam teritori positif .
“Dari perhitungan fair value 2026 menggunakan pendekatan PBV–ROE dan DCF, estimasi nilai wajar BBCA berada di kisaran Rp8.700-Rp9.300, BBRI Rp3.600–Rp4.250, BMRI Rp4.700–Rp5.350, AMMN Rp4.800–Rp6.850, dan BYAN di kisaran Rp8.000–Rp11.100,” ujar Lucky kepada Bisnis, Selasa (9/12/2025).
Menilik valuasi harga kelima saham tersebut berdasarkan level sekarang, price to earnings ratio (PER) BBCA berada di 17,26 kali dengan price to book value ratio (PBV) 3,61 kali. Berikutnya, PER BMRI ada di 9,07 kali dengan PBV 1,62 kali, PER BBRI di 10,26 kali dengan PBV 1,68 kali, PER BYAN ada di 50,22 kali dengan PBV 15,04 kali, sementara PER AMMN -113,79 kali dengan PBV 5,51 kali.
Dosen program Magister Ilmu Ekonomi, Perbankan dan Pasar Modal Universitas Trisakti ini menjelaskan bahwa pada 2026 nanti, saham BMRI menunjukkan potensi rebound, didorong pemulihan laba dan efisiensi yang lebih kuat.
: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini 9 Desember 2025
Sementara itu, pemulihan kinerja saham BBRI akan tergantung bagaimana bank pelat merah ini melakukan akselerasi dalam pengelolaan kredit mikro di tahun depan. Sedangkan, BBCA diperkirakan akan tetap menjadi saham defensif yang stabil.
Berikutnya, kinerja saham AMMN diproyeksi akan berada dalam volatiltas yang cukup tinggi, tergantung kenaikan harga tembaga. Terakhir, BYAN dinilai memiliki peluang menguat, tetapi akan terbatas.
“Secara strategi, akumulasi paling rasional pada BMRI dan BBRI, sementara BBCA sebagai saham untuk dapat digunakan untuk rebalancing portofolio,” pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
