Laporan Global Carbon Budget 2024 memberikan peringatan keras: target Perjanjian Paris untuk menahan laju pemanasan global di bawah 1,5°C semakin menjauh dari jangkauan. Bahkan, dengan laju emisi saat ini, upaya tersebut dinilai “hampir mustahil” untuk dicapai. Laporan tahunan ini menyoroti bahwa meskipun transisi menuju energi bersih terus bergulir di berbagai negara, laju dekarbonisasi belum mampu mengimbangi lonjakan kebutuhan energi global.
Tim ilmuwan internasional yang terdiri dari lebih 130 pakar, dalam laporan yang dikutip Euronews, mengungkapkan proyeksi yang mengkhawatirkan: emisi bahan bakar fosil pada tahun 2024 diperkirakan akan melonjak 1,1% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai rekor tertinggi 37,4 miliar ton. Pemicu utama kenaikan ini adalah peningkatan penggunaan batu bara, minyak, dan gas.
Tanpa adanya perubahan signifikan dalam tren emisi global, para penyusun Global Carbon Budget 2024 menekankan bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer akan terus meningkat, memperparah dampak buruk pemanasan global yang sudah kita rasakan. Dunia seolah sedang berlomba dengan waktu, sementara “anggaran karbon” yang tersisa semakin menipis.
Baca juga:
* Puncak Emisi Karbon Sektor Energi Mundur, IESR Beberkan Konsekuensinya
* 9 Cara Mengurangi Emisi Karbon, Kurangi Dampak Perubahan Iklim
* IESR: Emisi Karbon Bisa Berkurang 101 Juta Ton Jika Transum Naik 40%
Tahun ini menandai satu dekade sejak lahirnya Perjanjian Paris. Sayangnya, meskipun berbagai kemajuan telah dicapai, emisi bahan bakar fosil terus menunjukkan tren peningkatan. Laporan Global Carbon Budget 2024 mencoba menghitung secara cermat sisa karbon yang dapat dilepaskan ke atmosfer tanpa melampaui ambang batas 1,5°C yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut.
Profesor Pierre Friedlingstein dari Global Systems Institute, Exeter, yang memimpin penelitian ini, menyatakan dengan nada prihatin, “Dengan emisi CO2 yang terus meningkat, menjaga pemanasan global di bawah 1,5°C menjadi semakin tidak realistis.” Ia menambahkan bahwa sisa anggaran karbon untuk mencapai target kenaikan suhu 1,5°C, yang diperkirakan sebesar 170 miliar ton karbon dioksida, akan ludes sebelum tahun 2030 jika laju emisi tidak dikendalikan.
“Kami memperkirakan perubahan iklim kini mengurangi total serapan karbon dari daratan dan lautan – sebuah sinyal jelas dari Planet Bumi bahwa kita perlu mengurangi emisi secara drastis,” tegas Profesor Friedlingstein.
Di sisi lain, ada sedikit harapan. Laporan tersebut mencatat bahwa total emisi CO2 tumbuh lebih lambat dalam dekade terakhir, dengan rata-rata peningkatan 0,3% per tahun, dibandingkan dengan dekade sebelumnya yang mencatat rata-rata peningkatan 1,9% per tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa Perjanjian Paris mungkin telah memberikan dampak positif, meskipun belum cukup untuk membalikkan tren peningkatan emisi secara keseluruhan.
Summary
The Global Carbon Budget 2024 report cautions that the Paris Agreement’s goal of limiting global warming to below 1.5°C is becoming increasingly challenging. Fossil fuel emissions are projected to surge by 1.1% in 2024, reaching a record high of 37.4 billion tons, primarily driven by increased use of coal, oil, and gas.
Professor Pierre Friedlingstein emphasizes that the remaining carbon budget to achieve the 1.5°C temperature increase target will be exhausted before 2030 if emissions are not controlled. Although CO2 emissions have grown more slowly in the last decade, this is not enough to reverse the overall increasing emissions trend, highlighting the need for drastic emissions reductions.
