
Rancak Media – , JAKARTA — Indeks saham dengan reputasi tinggi dalam pembagian dividen, IDX High Dividend 20, tercatat sebagai salah satu indeks dengan kinerja paling melemah di pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini. Meskipun demikian, prospek cerah menanti konstituennya, dengan proyeksi penguatan yang dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga acuan pada akhir tahun 2025.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX High Dividend 20 sempat menunjukkan sinyal positif dengan penguatan 3,8% ke level 469,97 pada perdagangan Senin, 20 Oktober 2025. Namun, capaian ini belum cukup mengangkat indeks tersebut dari zona merah. Secara akumulatif sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD), indeks saham-saham pilihan pembagi dividen ini masih terpuruk 8,2% sejak awal perdagangan 2025.
Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa performa IDX High Dividend 20 yang masih lesu disebabkan oleh pelemahan saham sejumlah konstituen utamanya. Saham-saham bank berkapitalisasi jumbo, seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), misalnya, telah mengalami tekanan sejak awal tahun. Tidak hanya itu, saham dari sektor pertambangan seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) juga turut berkontribusi pada penurunan indeks.
“Konstituen IDX High Dividend 20 cenderung bergerak stagnan. Saham seperti ITMG sangat dipengaruhi oleh sentimen dinamika harga batu bara yang terus menurun. Sementara itu, bank-bank jumbo, meskipun fundamentalnya kuat, kinerjanya masih di bawah ekspektasi sebagian besar pelaku pasar,” ungkap Nafan kepada Bisnis pada Senin (20/10/2025).
Danantara Bidik Investasi Rp750 Triliun dari Dividen BUMN dalam 5 Tahun
Namun, Nafan melihat potensi penguatan IDX High Dividend 20 di masa mendatang, terutama didorong oleh tren penurunan suku bunga acuan yang berdampak positif pada saham-saham bank jumbo. Bank Indonesia (BI) sendiri telah memangkas suku bunga acuannya sebanyak lima kali pada tahun ini. Terakhir, BI menurunkan BI Rate ke level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 17 September 2025, mencapai level terendah sejak Oktober 2022. Selain itu, terdapat pula antisipasi penurunan suku bunga oleh The Fed dan BI pada bulan ini, yang diharapkan dapat memberikan dorongan lebih lanjut.
Menariknya, harga saham bank jumbo kompak menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan 20 Oktober 2025. Saham BBCA melonjak 5%, BMRI naik 6,17%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menguat 5,14%, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) memimpin dengan kenaikan 6,32%.
Nafan menambahkan bahwa saham-saham bank jumbo dan beberapa saham lainnya, termasuk ITMG, saat ini diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya, menjadikannya menarik untuk diakumulasi. Ditambah lagi, akhir tahun ini merupakan momentum penting bagi konstituen IDX High Dividend 20 untuk membagikan dividen interim. “Ini adalah waktu yang sangat tepat untuk mengumpulkan saham-saham yang atraktif dalam pembagian dividen, terutama menjelang momentum dividen interim,” tegas Nafan.
Senada, Liza Camelia Suryanata, Head of Research PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa kinerja IDX High Dividend 20 yang masih di zona merah tahun ini disebabkan oleh kekhawatiran investor akan potensi penurunan dividend per share. “Meskipun demikian, tema investasi berbasis dividen tetap menarik dan relevan,” ujarnya kepada Bisnis.
Liza juga melihat adanya peluang penguatan IDX High Dividend 20 ke depan, didukung oleh ruang penurunan suku bunga acuan BI. Kondisi ini diproyeksikan akan mampu mendorong kinerja saham-saham bank jumbo seperti BBCA dan BMRI, yang notabene merupakan penopang utama indeks tersebut.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Indeks IDX High Dividend 20 mengalami pelemahan sepanjang tahun 2025, meskipun sempat menunjukkan sinyal positif. Pelemahan ini disebabkan oleh stagnannya pergerakan saham konstituen utama seperti BBCA, BMRI, ADRO, dan ITMG, yang dipengaruhi sentimen harga batu bara dan kinerja di bawah ekspektasi.
Namun, terdapat potensi penguatan IDX High Dividend 20 di masa mendatang, didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga acuan yang positif bagi saham-saham bank jumbo. Saham-saham bank jumbo, serta ITMG, saat ini diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya dan momentum pembagian dividen interim menjadi daya tarik untuk diakumulasi.
