MotoGP Mandalika Pakai Bahan Bakar Hijau, Sepeda Motor di Indonesia Kapan?

 

Rancak Media – , JAKARTA – Kesuksesan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 atau MotoGP Mandalika, dengan rekor penonton yang menyaksikan langsung hingga 140.324 orang, tidak hanya sekadar tontonan. 

Lonjakan penonton sebesar 15,7% atau 19.072 orang dibandingkan 2024, dengan area premium seperti Paddock dan VIP Village melonjak 36%, membuktikan daya pikat agenda tahunan ini. 

“Ini menunjukkan bahwa MotoGP Mandalika semakin dicintai, bukan hanya oleh penonton dalam negeri, tapi juga oleh penggemar MotoGP mancanegara,” jelas Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Priandhi Satria, dalam keterangan resmi, Minggu (5/10/2025).

: MOTOGP 2025 MANDALIKA : Fermin Aldeguer Menangi Balapan

Terlepas dari rekor penonton serta kesuksesan helatan event internasional, MotoGP bisa dipandang menjadi panggung kampanye untuk masa depan transportasi berkelanjutan, seiring dengan implementasi wajib bahan bakar berkelanjutan 40% di seluruh motor MotoGP mulai musim ini dan bakal meningkat menjadi 100% pada 2027.

Bahan Bakar Hijau

: : Kutukan MotoGP Mandalika Berlanjut, Marquez Tambah Catatan Rekor Buruk Sejak 2022

Kebijakan MotoGP ini harusnya bukan sekadar simbolis. Inisiatif ini jadi ajang menyempurnakan bahan bakar ramah lingkungan (green fuel). Setidaknya, dua jenis bahan bakar andalan yang digunakan adalah bahan bakar biomassa dan bahan bakar sintetis (E-Fuels). 

Biomassa diproduksi dari bahan organik seperti tanaman tertentu, limbah pertanian, atau alga. Sumber daya terbarukan ini tidak menambah emisi karbon netto ke atmosfer.

: : ICEL: PP KEN Kurangi Ambisi Adopsi Energi Terbarukan

Adapun, E-Fuels dihasilkan dengan memanfaatkan energi terbarukan untuk membuat hidrogen hijau dan menangkap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer, menciptakan siklus karbon yang hampir tertutup.

Mengutip informasi di laman resmi MotoGP, meski semua tim harus menggunakan bahan bakar berkelanjutan 100%, setiap pabrikan seperti Ducati, Aprilia, KTM, dan Honda Yamaha memiliki pemasok bahan bakar resmi mereka sendiri. 

Pemasok bahan bakar hijau ini bekerja sama sangat erat dengan pabrikan untuk mengembangkan formula khusus yang memenuhi dua tujuan utama, yakni kinerja maksimal mesin dan standar dengan regulasi The Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM). 

Aturan-aturan ini, antara lain, melarang penggunaan zat aditif tertentu dan memastikan bahwa bahan bakar berada dalam rentang oktana yang ditentukan, untuk menjaga level playing field dan mencegah pengeluaran biaya yang tidak terkendali.

Di MotoGP, terdapat beberapa pemasok bahan bakar yang beroperasi di berbagai pabrikan dan tim, seperti KTM bekerja sama dengan ExxonMobil, Ducati – Shell, Yamaha – TotalEnergies, serta Aprilia dan Honda – BP.

“Setiap pabrikan memiliki bahan bakar yang dikembangkan khusus untuk mereka, dan bahan bakar tersebut memenuhi peraturan teknis yang ketat sebagaimana diberlakukan oleh badan pengatur olahraga tersebut,” tulis laporan yang diunggah 5 Mei 2025 tersebut.

Transisi ke bahan bakar 100% berkelanjutan pada 2025 adalah bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang MotoGP. Langkah ini selaras dengan visi yang lebih luas di industri otomotif global untuk mencari alternatif yang lebih hijau dari mesin pembakaran internal tradisional.

Dengan mengadopsi teknologi bahan bakar berkelanjutan di arena balap yang kompetitif, MotoGP bertindak sebagai platform pengujian yang berharga. 

Kampanye MotoGP untuk mendorong penggunaan bahan bakar berkelanjutan diharapkan juga menular di Indonesia. Hal ini penting, mengingat transportasi jalan raya dan darat mendominasi konsumsi energi.

Dekarbonisasi Transportasi

Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO), Institute for Essential Services Reform (IESR),  Fabby Tumiwa, menyatakan bahwa dekarbonisasi transportasi jalan membutuhkan upaya terstruktur dan sistematis, yang memerlukan banyak inovasi dalam kebijakan, teknologi, dan model bisnis untuk melaksanakan smart electrification.

Merujuk data IESR, sektor transportasi di Indonesia mengonsumsi 40% BBM nasional di Indonesia. Transportasi jalan raya dan darat mendominasi konsumsi energi pada sektor transportasi. 

Transportasi jalan raya menyumbang 80% emisi sektor transportasi, yang terus naik setiap tahunnya sebesar 1,56% dan mencapai 202 juta ton CO2 pada 2024.

Sebagai catatan, sekitar 24% emisi CO₂ diproyeksikan tetap sebagai emisi residual. Sebagian besar berasal dari sektor transportasi barang, khususnya kendaraan berat, yang belum menjadi fokus intervensi khusus dalam kajian ISMO 2025.

Analis Kebijakan Lingkungan IESR, Ilham R. F. Surya menyatakan situasi transportasi umum, studi kasus di 3 kota besar (Bandung, Jakarta, Yogyakarta) menunjukkan transportasi umum menghadapi berbagai tantangan dalam hal keandalan dan konsistensi pelayanan.

“Dengan kondisi angkutan umum yang belum sepenuhnya andal ini, membuat orang cenderung memilih sepeda motor untuk cara commutingnya. Tidak heran 70% masyarakat Indonesia menggunakan sepeda motor,” kata Ilham.

Dominasi sepeda motor turut berkontribusi signifikan terhadap pencemaran udara, terutama karena emisi polutan seperti NOx, CO, dan HC dari sepeda motor tercatat lebih tinggi dibandingkan moda transportasi lain, emisi NOx bahkan bisa mencapai 20 kali lipat lebih besar. 

Ilham menambahkan jika masyarakat terus-menerus mengandalkan kendaraan pribadi untuk bermobilitas, setidaknya terdapat tiga hal yang akan terjadi yaitu emisi GRK akan naik, kepemilikan kendaraan pribadi naik, serta naiknya konsumsi bahan bakar minyak.

Baca Juga

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.