Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui adanya defisit signifikan dalam jumlah tenaga ahli gizi yang bertugas di unit satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau dapur umum makan bergizi gratis (MBG). Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terkait kualitas dan keamanan pangan yang disalurkan.
Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, secara terbuka mengajak para ahli gizi berpengalaman di seluruh Indonesia untuk bergabung dan mendaftar ke SPPG. Nanik mengungkapkan bahwa BGN saat ini mengalami kelangkaan tenaga profesional yang memahami secara mendalam aspek gizi. “Kami sangat kekurangan ahli gizi. Lebih senang lagi kalau yang sudah berpengalaman, karena kami sekarang sudah kehabisan, sudah kehabisan stok,” tegas Nanik dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Kantor BGN, Jakarta Pusat, pada Jumat (26/9).
Meskipun demikian, BGN juga membuka peluang lebar bagi para tenaga ahli gizi lulusan baru. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk menambal kekurangan sumber daya manusia (SDM) ahli gizi dalam proyek MBG. Nanik optimistis bahwa generasi muda memiliki kemampuan adaptasi dan belajar yang lebih cepat, terutama dengan akses informasi yang lebih kompleks melalui media sosial. “Kalau ada salah-salah mari kita perbaiki, tapi kasih kesempatan mereka juga untuk bisa bekerja di dapur MBG, daripada menganggur,” imbuhnya, menekankan pentingnya memberdayakan potensi muda.
Di tengah isu kelangkaan SDM ini, BGN juga dihadapkan pada masalah serius terkait keamanan pangan. Sejak Januari hingga 25 September, tercatat ada 5.914 penerima manfaat MBG yang mengalami insiden keracunan makanan. Kasus ini tersebar di 70 lokasi berbeda dan melibatkan anak sekolah serta ibu hamil sebagai korban utama.
Berdasarkan catatan BGN, insiden keracunan tersebut tersebar di tiga wilayah. Wilayah II atau Jawa menjadi area dengan angka tertinggi, mencatat 41 kasus yang berdampak pada 3.610 orang. Menyusul di urutan berikutnya, Wilayah I yakni Sumatra melaporkan 9 kasus dengan 1.307 orang terdampak. Sementara itu, Wilayah III, yang mencakup NTB, NTT, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua, tercatat ada 20 kasus dengan 997 orang mengalami keracunan.
Data menunjukkan adanya lonjakan kasus yang mengkhawatirkan pada periode Agustus dan September. Pada Januari, BGN mencatat hanya 4 kasus dengan 94 korban. Jumlah ini kemudian melonjak drastis pada Agustus menjadi 9 kasus dengan 1.988 orang terdampak, lalu kembali meningkat tajam hingga 44 kasus dengan 2.210 orang terdampak pada September.
Lima daerah yang mencatat jumlah korban terbanyak meliputi Kota Bandar Lampung dengan 503 orang, disusul Kabupaten Lebong, Bengkulu (467 orang), Kabupaten Bandung Barat (411 orang), Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah (339 orang), serta Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta (305 orang).
BGN telah mengidentifikasi beberapa penyebab utama di balik insiden keracunan massal ini. Salah satunya adalah ditemukannya Bakteri E. coli yang berasal dari kontaminasi pada air, nasi, tahu, dan ayam. Selain itu, terdeteksi pula Staphylococcus aureus pada tempe dan bakso, serta bakteri Salmonella yang ditemukan pada ayam, telur, dan sayuran.
Penyelidikan lebih lanjut oleh BGN juga mendapati keberadaan Bacillus cereus pada mie. Tidak hanya itu, kontaminasi air turut menjadi pemicu penyebaran bakteri seperti Coliform, Klebsiella, Proteus, hingga kandungan logam berat timbal (Pb) yang sangat berbahaya bagi kesehatan.
Ringkasan
Badan Gizi Nasional (BGN) menghadapi defisit signifikan ahli gizi di unit layanan makan bergizi gratis (MBG), yang menimbulkan kekhawatiran serius terkait kualitas dan keamanan pangan. Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, mengundang ahli gizi berpengalaman serta lulusan baru untuk bergabung dalam proyek MBG, mengingat kelangkaan tenaga profesional saat ini.
Kondisi ini diperparah dengan 5.914 penerima manfaat MBG, mayoritas anak sekolah dan ibu hamil, mengalami keracunan makanan di 70 lokasi hingga September, dengan lonjakan kasus signifikan pada Agustus dan September. Penyebabnya diidentifikasi sebagai kontaminasi bakteri seperti *E. coli*, *Staphylococcus aureus*, *Salmonella*, *Bacillus cereus* pada makanan, serta bakteri lain dan logam berat timbal dari air yang terkontaminasi.
