JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan tren positif, mencatatkan penguatan selama lima hari perdagangan berturut-turut. Namun, reli ini menghadapi tantangan berat menjelang pengumuman suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Setelah sempat tertekan di zona merah hampir sepanjang hari, IHSG menunjukkan ketangguhannya dengan berbalik arah dan menutup perdagangan Selasa (17/9/2025) dengan kenaikan sebesar 0,26% atau 20,57 poin, mencapai level 7.957,69.
Data perdagangan menunjukkan bahwa 330 saham mengalami kenaikan, sementara 320 saham terkoreksi, dan 152 saham stagnan. Penguatan ini mendorong kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp14.413,76 triliun.
Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa penguatan ini mempertahankan level support IHSG di kisaran 7.868 dan 7.786, sementara level resistance berada di 8.021 dan 8.152.
Meskipun demikian, menurutnya, pasar tetap akan menaruh perhatian besar pada dinamika keputusan The Fed, termasuk rilis risalah pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC), keputusan suku bunga, serta proyeksi ekonomi FOMC.
Sebelumnya, pasar sempat menaruh harapan pada kebijakan pelonggaran moneter yang lebih agresif dari The Fed, dengan potensi penurunan suku bunga hingga 50 basis poin (bps) pada September 2025.
Namun, di bawah kepemimpinan Jerome Powell, The Fed diperkirakan akan lebih berhati-hati mengingat tekanan inflasi yang masih berlanjut, tercermin dari data indeks harga konsumen AS (US CPI) dan indeks belanja konsumsi personal (US PCE).
“Dengan kondisi tersebut, The Fed kemungkinan hanya akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps. Hal ini berpotensi memicu aksi sell on news di pasar,” ungkap Nafan kepada Bisnis, Selasa (16/9/2025).
Selain keputusan suku bunga, investor juga akan mencermati rilis Proyeksi Ekonomi September dan Dot Plot untuk mengukur peluang pemangkasan suku bunga lanjutan pada Desember mendatang.
Di sisi domestik, hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Rabu (17/9/2025) menjadi fokus utama. Konsensus pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5%, yang pada dasarnya sudah tercermin (priced in) dalam pergerakan pasar.
“Jika BI memangkas BI Rate menjadi 4,75%, hal itu akan menjadi katalis positif bagi IHSG. Namun, mengingat pergerakan IHSG hari ini cenderung melemah akibat aksi ambil untung (profit taking), peluang tersebut terlihat lebih kecil,” jelasnya.
Selain faktor moneter, stimulus ekonomi pemerintah senilai Rp200 triliun juga diharapkan dapat mendukung perekonomian domestik. Walaupun sebagian besar sudah diantisipasi oleh pasar, kebijakan ini dinilai tetap memberikan harapan positif bagi pasar ke depan.
Nafan memperkirakan bahwa IHSG berpotensi memasuki zona bullish pada kuartal IV/2025. Secara historis, indeks komposit cenderung tertekan pada bulan September dalam lima tahun terakhir. Catatan historis ini menunjukkan bahwa arah pasar akan sangat ditentukan oleh kombinasi faktor global dan domestik.
“Pernyataan dari Gubernur BI Perry Warjiyo sangat dinantikan oleh pelaku pasar. Diharapkan beliau dapat memberikan optimisme yang sama seperti yang telah disampaikan oleh Menteri Keuangan,” pungkasnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren positifnya selama lima hari berturut-turut, ditutup menguat 0,26% ke level 7.957,69 pada Selasa (17/9/2025). Penguatan ini menghadapi tantangan besar menjelang pengumuman suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) AS. Meskipun pasar sempat berharap penurunan 50 basis poin (bps), The Fed diperkirakan hanya akan memangkas 25 bps karena tekanan inflasi yang masih berlanjut, berpotensi memicu aksi jual di pasar.
Di sisi domestik, keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) juga menjadi fokus utama, dengan konsensus pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5%. Jika BI memangkas suku bunga menjadi 4,75%, hal itu akan menjadi katalis positif bagi IHSG, meski peluangnya dinilai lebih kecil. Selain itu, stimulus ekonomi pemerintah senilai Rp200 triliun diharapkan dapat mendukung perekonomian domestik dan IHSG diperkirakan berpotensi memasuki zona bullish pada kuartal IV/2025.
