Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) mengambil langkah strategis dengan menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama HyET Group, perusahaan teknologi terkemuka asal Belanda. Kolaborasi ini menandai komitmen kuat Pertamina NRE dalam mengakselerasi pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia, utamanya melalui integrasi inovasi teknologi mutakhir.
Kerja sama yang terjalin ini mencakup berbagai aspek penting. Dimulai dari identifikasi peluang implementasi teknologi HyET di Indonesia, dilanjutkan dengan pengembangan proyek percontohan (pilot project) yang menjadi fondasi inovasi. Lebih lanjut, kemitraan ini juga berfokus pada transfer pengetahuan dan peningkatan kapabilitas sumber daya manusia, serta pembentukan jalur komersialisasi yang efektif untuk mempercepat adopsi teknologi EBT secara nasional.
“Pengembangan EBT tidak bisa dilepaskan dari inovasi teknologi. Dengan keahlian yang dimiliki HyET dalam bidang teknologi EBT, kami berharap melalui kerja sama strategis ini akan terjadi transfer pengetahuan yang signifikan, sehingga mampu mengakselerasi transisi energi di Indonesia,” ungkap CEO Pertamina NRE, John Anis, dalam siaran pers yang dikutip pada Selasa (9/9).
Penandatanganan MoU penting ini dilakukan oleh CEO Pertamina NRE John Anis dan CEO HyET Group Rombout Swanborn. Momen bersejarah tersebut berlangsung di sela-sela rangkaian Forum Bisnis Indonesia – Eropa yang diselenggarakan dari tanggal 2 hingga 9 September 2025.
Baca juga:
- Pertamina NRE Gandeng Verso Energy Prancis Kembangkan Bahan Bakar Sintetis
- Pertamina NRE & CREC, Dorong Akselerasi EBT
- KADIN Indonesia Dukung Pertamina NRE Bangun PLTN
Pertamina NRE memandang kemitraan dengan mitra strategis sebagai pilar utama untuk keberhasilan transisi energi. Hal ini krusial tidak hanya untuk transfer pengetahuan dan teknologi, tetapi juga untuk meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, perusahaan secara aktif menjalin kerja sama dengan mitra-mitra yang memiliki reputasi dan pengalaman mumpuni dalam pengembangan EBT. Dampak positif dari kemitraan semacam ini diharapkan tidak hanya dirasakan oleh Pertamina NRE, tetapi juga secara luas bagi transisi energi nasional di Indonesia.
Selain fokus pada pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, Pertamina NRE juga gencar mengembangkan berbagai solusi rendah karbon lainnya. Inisiatif tersebut mencakup pengembangan hidrogen rendah emisi, produksi bioetanol untuk bahan bakar nabati, pengelolaan bisnis karbon, serta proyek-proyek inovatif lainnya yang mendukung dekarbonisasi.
Sementara itu, HyET Group merupakan perusahaan teknologi terkemuka dari Belanda yang berdedikasi pada solusi inovatif dalam bidang energi terbarukan dan hidrogen. Spesialisasi mereka meliputi teknologi panel surya yang efisien, teknologi elektrolisis hemat energi, pengembangan baterai lithium, serta kemajuan dalam teknologi hidrogen biru dan hijau.
Menanggapi potensi kerja sama ini, Swanborn menyatakan, “Kami melihat Indonesia sebagai salah satu pasar yang sangat potensial untuk pengembangan energi terbarukan. Dengan menggabungkan keahlian teknologi HyET dan kapasitas Pertamina NRE sebagai salah satu pemain utama dalam industri EBT di kawasan, kami yakin kerja sama ini akan melahirkan solusi yang relevan, efektif, dan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap transisi energi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara.”
Ringkasan
Pertamina New & Renewable Energy (NRE) dan HyET Group, perusahaan teknologi asal Belanda, menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakselerasi pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia. Kerja sama ini berfokus pada integrasi inovasi teknologi, termasuk identifikasi peluang, pengembangan proyek percontohan, transfer pengetahuan, dan jalur komersialisasi teknologi EBT.
CEO Pertamina NRE John Anis menyatakan bahwa kolaborasi ini krusial untuk transfer pengetahuan dan mengakselerasi transisi energi nasional. HyET Group sendiri memiliki spesialisasi dalam teknologi panel surya, elektrolisis, baterai lithium, serta hidrogen biru dan hijau. Kemitraan strategis ini diharapkan mampu melahirkan solusi efektif yang berkontribusi signifikan pada transisi energi di Indonesia dan Asia Tenggara.
