Tempe Lasem yang Tidak Lagi Diinjak-injak

 

Waktu menunjukkan pukul 9,09 pagi di Lasem ketika kami menyelesaikan kunjungan ke rumah Oma Frida di Soditan.

Rumah tua itu, dengan dua mobil tuan dan altar leluhur yang bisu, menyisakan semacam getar dalam ingatan. Sangat berkesan sekaligus sulit dilupakan.

Tapi kunjungan di Lasem masih panjang, hari baru saja mulai. Sebelas orang rombongan Wisata Kreatif Jakarta bersama mas Agik segera  kembali ke mobil Elf  dan tak hanya perlu sekitar 10 menit kemudian turun di ujung sebuah gang di desa Sumbergirang.

“Kita jalan kaki ya, mobil nggak bisa masuk,” kata Mas Agik sambil menunjuk arah.

Lorong kecil itu hidup oleh suara anak-anak yang sedang bermain dan ibu-ibu yang membawa keranjang belanjaan. Maklum di ujung gang terdapat pasar.

Sekitar tiga menit melangkah, Mas Agik berhenti di depan sebuah rumah tua.

Pintunya warna hijau toska dan setengah terbuka.  Ternyata inilah tujuan kedua kami pagi itu. Rumah yang sederhana, dindingnya dicat putih namun  kusam dan banyak yang sudah terkelupas dimakan usia.

Di sebelah pintu, pada dinding yang kusam ada sebuah spanduk yang juga sudah kusam, pudar dan hampir luput terbaca: “Tempe Super Mbah Sripah,” lengkap dengan alamat di RT 03/RW 02 Desa Sumbergirang (Sumur Kepel) dan juga ada nomor kontak serta nama dan logo salah satu sekolah tinggi ekonomi yang mungkin pernah KKN di sini.

Tepat di depan rumah ini, kami langsung bertemu kejutan pertama: sebuah gerobak es tebu.

Batang-batang tebu segar bertumpuk rapi di sisi gerobak. Di baliknya, seorang lelaki berusia sekitar dua puluh lima tahun, berkaus merah dan mengenakan topi  hitam sedang melayani pembeli. Sebuah payung warna pelangi juga ada di gerobak ini.

Cairan hijau kekuningan mengalir deras ke dalam wadah plastik, disajikan dengan es batu.

Kami kemudian masuk ke dalam rumah pabrik tempe itu. Kami melewati teras luas dengan dinding kayu bercat hijau cerah dan jendela kuning-hijau yang khas. Ada dua motor terparkir di sisi kiri, beberapa kursi merah dan meja dengan taplak tersusun rapi di kanan. Suasana hangat khas rumah kampung Jawa terasa kuat di sini—sederhana, bersih, namun terasa hangat dan seakan mengucapkan selamat datang.

Begitu  masuk, langsung terasa bahwa rumah ini bukan sekadar tempat tinggal—ini adalah dapur hidup yang menyala setiap pagi oleh kerja dan ketekunan

Yang pertama kami lihat adalah proses membungkus tempe. Dua orang  ibu duduk bersila di lantai, dikelilingi tumpukan kedelai matang dan daun jati yang telah dibersihkan. Gerakan mereka cekatan dan presisi. Dalam waktu satu menit, satu bungkus tempe selesai. Bungkus daun jati itu dilipat seperti amplop, diikat tali, lalu ditumpuk dalam tampah bambu. Satu per satu. Dari pagi sampai siang, bahkan hingga jam dua atau tiga sore mereka bekerja tanpa jeda panjang.

“Setiap pagi mulai jam tujuh ,” kata salah satu ibu sambil terus membungkus. “Biasanya sampai jam dua siang. Kalau ramai bisa lebih.”

Kami  juga disambut oleh mbak Yanti yang sedang sibuk menggoreng tempe.

Menurut Mbak Yanti usaha tempe ini sudah dimulai sejak tahun 1957 oleh Mbah Masrifah yang merupakan mertua mbak Yanti.  Usaha ini sekarang dilanjutkan bersama suaminya, Mas Pur.

Sambil bercakap cakap saya memperhatikan dua ibu yang terus bekerja dengan tekun. Susunan tempe yang dibungkus daun jati tampak rapi tersusun satu demi satu bagaikan rumah susun.

Sementara itu, mas Agik datang dan memberikan kami masing-masing es tebu yang dibeli di depan tadi.

“Minum dulu, cocok banget sambil  liat proses bikin tempe,” katanya.

Dan benar saja—es tebu manisnya alami, dinginnya pas, seperti disiapkan khusus untuk menghadapi cuaca Lasem yang mulai terik. 

Menurut Mas Agik tebu yang dijual tadi didatangkan khusus dari Jombang karena batang tebu di Lasem dan Rembang kecil-kecil sehingga airnya kurang banyak.

Sambil menikmati es tebu, saya memperhatikan dua orang ibu yang bekerja  dalam diam. Tidak ada mesin, tidak ada suara bising, hanya suara daun yang dilipat dan tali yang ditarik. Semua dilakukan dengan tangan. Semuanya terasa akrab, manusiawi.

Kombinasi antara rasa manis tebu dan bau daun jati yang samar membuat pagi itu terasa begitu kuat membekas.

Saya kemudian berjalan lebih jauh ke dalam. Di sini saya  melihat dapur besar di bagian belakang rumah. Ada seorang lelaki bercelana jin, mengenakan sendal jepit dengan kaus hitam bertuliskan Mr. Big, dengan  topi merah  di kepala sedang menjaga tungku kayu besar. Di atasnya, panci raksasa berisi kedelai mendidih dengan suara bergolak.

“Kenapa nggak pakai gas, Mas?” tanya salah saya. Lelaki ini ternyata mas Pur, suami mbak Yanti.

Ternyata mereka pernah mencoba memasak pakai gas tetapi tidak cocok untuk memasak kedelai ini. Memakai gas lebih cepat mendidih namun kedelainya belum matang.  Juga tempe yang dihasilkan tidak maksimal rasanya.

“Memakai kayu juga lebih aman dan murah,” tambah  Mas Pur cepat, sambil menambahkan kayu bakar baru ke tungku.

Menurut  Mas Pur lama merebus kedelai kurang lebih  tiga jam. Setelah direbus, kedelai itu akan didinginkan, dikeringkan, lalu dibungkus seperti yang kami lihat tadi. Proses fermentasi tidak menggunakan ragi dari toko. Mereka memakai daun jati bekas fermentasi sebelumnya—daun yang sudah mengandung jamur alami, dan bisa mengaktifkan fermentasi berikutnya. Secara tradisional prinsip reuse dan recycle sudah diterapkan di Omah Tempe ini. Lingkaran hidup yang tak terputus.

Saya kembali ke tempat membungkus tempe. Mbak Yanti yang baru saja menggoreng tempe, mempersilahkan kami mencobanya.

Wah rasanya ternyata sangat enak dan renyah. Beda dengan tempe yang biasa saya makan di Bekasi. Dalam waktu sekejap, tempe di atas piring habis.

Sambil makan, saya melihat spanduk besar bertuliskan “Selamat Datang di Omah Tempe Mbah Masrifah” dengan foto beberapa pengunjung.

Sambil menikmati tempe goreng, saya mengamati lagi tempe-tempe yang sudah dibungkus, disusun rapi dalam tampah besar. Aromanya sangat  khas—bukan bau tempe biasa, tapi aroma yang dicampur antara daun, kayu, dan kedelai. Tak heran kalau banyak yang bilang tempe bungkus daun jati punya rasa lebih gurih, dan aromanya lebih kuat dari tempe plastik atau daun pisang.

Mbak Yanti juga menjelaskan ada dua bentuk tempe, yaitu yang bentuk segi empat konvensional dan yang bentuk segi enam.

“Tempenya bisa dibeli sekarang?” tanya salah seorang anggota rombongan.

“Bisa pesan, tapi ambilnya besok pagi ya. Yang sekarang, sudah  dipesan habis buat oleh-oleh,” jawab Mbak Yanti .

Banyak dari anggota rombongan yang memesan. harganya 6 ribu  rupiah  per ikat isi 10 tempe. Saya  sendiri tidak memesan—bukan karena tak ingin, tapi karena  perjalanan saya  masih panjang dan akan menginap di Semarang besok malam.

Kami lalu duduk di beranda, masih dengan plastik berisi es tebu yang mulai mencair. Salah satu dari kami bertanya sambil tertawa kecil mengenai apakah benar bikin tempe itu diinjak-injak.

Mbak Yanti, pengelola rumah tempe ini dan menantu Mbah Masripah, tertawa kecil. “Iya, dulu banget. Itu zaman mbah saya. Kedelai direbus, lalu diinjak untuk mengupas kulit arinya. Diinjak pakai kaki yang bersih, di dalam tampah besar.” Ia bercerita bahwa itu dilakukan karena belum ada alat untuk mengupas kedelai. Cara sederhana dan kasar, tapi efektif.

Cerita itu mengingatkan saya akan  kutipan lama dari Bung Karno yang masih sering terdengar di telinga: “Jangan mau jadi bangsa tempe!”

Di masa itu, tempe dijadikan simbol kelembekan. Bung Karno ingin rakyatnya punya keberanian, daya juang, dan tidak mau diinjak-injak—seperti tempe, katanya. Tapi setelah menyaksikan langsung cara membuat tempe, setelah merasakan keringat mereka yang bangun dini hari, tangan-tangan yang membungkus satu per satu, dan dapur yang menyala karena kesetiaan pada cara lama, kami justru merasa: tidak ada yang hina dari jadi bangsa tempe.

Kalau pun dulu tempe diinjak-injak, hari ini tidak lagi. Tempe dihormati. Dirawat. Dihidupi oleh tangan-tangan yang bekerja dalam diam. Maka barangkali yang dimaksud Bung Karno bukan makanannya, tapi sikap lunak yang tidak punya prinsip. Dan kalau tempe hari ini dibuat seperti ini—dengan keteguhan, disiplin, dan daya tahan—maka bangsa tempe justru patut dibanggakan.

Namun ironi datang dari bahan bakunya. Saya sempat bertanya: kedelainya dari mana?

“Kebanyakan impor, dari Amerika. Yang lokal susah dapatnya. Kadang kulitnya tebal, cepat rusak. Lagipula, harganya lebih mahal,” kata Mas Pur ketika sedang merebus kedelai.

Kalimat itu terdengar biasa, tapi menyisakan keganjilan. Tempe, yang begitu Indonesia, begitu akrab dalam dapur rakyat, ternyata tidak bisa hidup tanpa bahan baku dari negeri jauh. Kedelai kita kalah bersaing. Lahan kedelai menyempit. Petani tak lagi tertarik menanamnya. Tempe jadi korban dari sistem yang lebih besar dari sekadar pasar: politik pangan, kebijakan impor, dan arah produksi nasional yang semakin menjauh dari kemandirian.

Dan itulah bagian paling menyedihkan dari pagi itu: tempe lokal, tapi kedelainya asing. Seolah-olah kita bisa membuat rasa, tapi tidak punya bahan. Bisa menata bungkusnya, tapi tidak punya tanahnya.

Pagi itu di Sumbergirang, kami tidak hanya melihat cara membuat tempe. Kami menyaksikan sepotong kecil dari sistem yang lebih luas—soal pangan, ketahanan, dan ironi bangsa yang katanya agraris, tapi masih bergantung pada kapal-kapal besar pembawa kedelai dari seberang lautan.

Tidak terasa, hampir satu jam kami mampir di Omah Tempe. Waktu sudah menunjukan pukul 10.06 pagi.

Dan pagi itu, kami mengerti: tempe bukan soal lemah atau kuat. Ia adalah cermin. Dan kadang, dalam makanan yang dianggap paling sederhana pun, kita bisa melihat refleksi paling jujur dari siapa kita sebenarnya.

Mas Agik mengajak kami kembali berjalan kaki menyusuri lorong lorong sempit di Sumber Girang. Kali ini untuk mampir ke tempat yang paling menarik di Lasem. Tunggu artikel selanjutnya!

Baca Juga

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.